webmail  
fmipa fti ftsp ftk ftif pasca sarjana pens ppns










Orang baik adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain dan baik karakternya
ITS Menjadi World Class University, Bijakkah?
19 Januari 2017 12:37:15
<br />
World Class University sudah lama digaung gaungkan dalam dunia pendidikan. Persaingan internasional  dirasa semakin marak. Usaha kampus kampus semakin gila gilan untuk menduduki peringkat 500 kampus terbaik seluruh dunia. Bahkan,  milyaran dana berani digelontorkan demi mencapai tujuan ini. Lalu, bagaimana dengan ITS? 





ITS Online -
Sudah sedikit basi masalah pelaksanaan Ujian Nasional (UN) di Nusantara. Berdasar pada ketidak meratanya pendidikan, beberapa orang menyatakan bahwa pelaksanaan UN bukanlah hal yang bijak. Bukan pula parameter yang baik untuk mengukur kemampuan seorang murid. 

Bagaimana mungkin siswa Papua dibandingkan dengan siswa Jakarta. Toh memang pada dasarnya sudah beda treatment dari awal, untuk apa disetarakan diakhir? Penyetaraannya pun diwajibkan. Kalau tidak ikut, tak akan diakui di institusi pendidikan tinggi. Sebagian bahkan, tak dapat melamar pekerjaan tertentu. Bukankah secara tidak langsung ini bersifat memaksa?

Hal yang sama kini menjadi tren dunia pendidikan tinggi. Ribuan kampus berlomba lomba menjadi kampus terbaik dunia. Sebutannya World Class University. Itulah kampus kampus yang menduduki peringkat 500 terbaik di seluruh dunia. 

WCU ini sejatinya lahir dari institusi pemeringkat kampus dunia.  Contohkan saja tiga institusi pemeringkat kampus terbaik dunia. Yang pertama adalah Quacquarelli Symonds World University Rangking atau yang biasa dikenal sebagai QS World.  Ia menjadi primadona utama sebab, ia dikenal dimana mana. Coba saja ketik di mesin pencari anda, QS World pasti akan muncul dengan sejuta artikel urutan kampus terbaik. 

Dua pemeringkat lainnya adalah Association of Research World Universities (ARWU) dan Times Higher Education World University Rangking (THEWUR). Ketiga institusi tersebut memiliki kriteria masing masing. 

Ketiganya sangat getol melakukan pemeringkatan tiap tahun. Akibatnya, terdapat kampus kampus yang secara gambalng dinyatakan "Terbaik" dari yang lain. Namun demikian, pemeringkatan ini secara tidak langsung menyatakan kampus di urutan paling bawah sebagai The Loser. Hal ini berlangsung setiap tahun. 

Ketiga institusi ini pula secara tidak langsung melahirkan pasar global yang kompetitif di bidang pendidikan. Kampus kampus urutan atas pun diuntungkan dengan banyaknya peminat yang semakin menghijaukan ladang  sumber dananya. Akan tetapi, apakah pemeringkatan ini berdampak bagi mahasiswanya? 

Mengambil salah satu pemeringkat, QS World memiliki enam indikator yakni reputasi akademik, rasio jumlah dosen dan mahasiswa, jumlah sitasi penelitian dosen, reputasi alumni, rasio jumlah pengajar internasional, serta rasio mahasiswa internasional. Untuk mengejar kriteria inilah dibutuhkan milyaran dana. 

Pemeringkatan ini menyilaukan pandangan kampus terhadap latar belakang mahasiswa. Media ternama Washington Post melaporkan bahwa kampus kaya di Amerika mendorong keluarga kecil menengah menaikkan penghasilan mereka hingga 60 persen untuk mengirimkan anak anaknya ke kampus elit. Hal ini menggambarkan bahwa pemeringkatan secara tidak langsung tidak memandang keuangan mahasiswa ataupun masalah kesetaraan lainnya. 

Ellen Hazelkorn, pemerhati peringkat kampus dunia, menemukan bahwa kampus kampus top dunia kurang berminat bekerja sama dengan kampus afrika untuk mengembangkan penelitian. Hal ini jelas karena kerja sama kampus Afrika tidak memberi dampak bagi peringkatnya. Fakta ini mematikan tujuan perluasan dan penyetaraan kualitas pendidikan. 

Selain itu, ia juga menyebutkan bahwa kriteria yang ditentukan QS World, ARWU dan THEWUR telah mengaburkan pandangan kampus terhadap kualitas pendidikannya sendiri. Contohnya saja QS World, ARWU dan THEWUR seakan mengutamakan penelitian dibandingkan pengabdian masyarakat. Akibatnya, beberapa kampus pun mengurangi program pengabdian masyarakatnya. Toh, tidak masuk dalam kriteria. 

Selain itu, kualitan penelitian dikampus tertentu dihitung berdasarkan banyaknya publikasi serta sitasi. Tentu hal ini mengharuskan peneliti menulis riset berbahasa inggris. Lalu bagaimana dengan riset yang ditulis dengan bahasa lokal? Hal ini telah merendahkan dunia pendidikan yang tak hanya terbatas pada bahasa inggris saja. 

Lalu bagaimana sebaiknya mengukur kualitas suatu kampus? 

Kembali pada contoh ujian nasional di atas. Seharusnya kampus kampus sadar dengan perbandingan apple to apple. Ambil saja Contoh Carnegie Classification of Institution of Higher Education di Amerika Serikat serta German Center for Higher Education yang mengkategorikan universitas berdasarkan misi masing masing universitas  terhadap dunia pendidikan. 

Meskipun demikian, banyak pertanyaan yang kemudian akan muncul. Apakah universitas tersebut berhasil memenuhi target spesifiknya? Apakah kampus tersebut mampu mengembangkan kemampuan dan pasion mahasiswanya? Apakah kampus tersebut berhasil menggunakan dananya secara bijak? Pertanyaan pertanyaan tersebut butuh pemikiran kritis yang tidak terukur dengan rangking secara logis. 

Adven FN Hutajulu
Mahasiswa Jurusan Teknik Material dan Metalurgi
Angkatan 2013

https://www.its.ac.id/berita/101220/en
http://www.socialsciencespace.com/2016/10/whats-world-class-university-rankings/
http://www.universityworldnews.com/article.php?story=20161028114932634






Kirim komentar Anda:
Jumlah komentar: 0 (Lihat komentar)

Nama :
Email :
Tanggapan :
Masukkan kode di atas (Not Case Sensitive)   :