webmail  
fmipa fti ftsp ftk ftif pasca sarjana pens ppns










Orang baik adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain dan baik karakternya
Ritual Begadang dan Doping, Siapa yang Salah?
22 Februari 2014 19:56:21
Ritual begadang tampaknya tidak asing bagi mahasiswa ITS. Dengan berbagai kesibukannya, mahasiswa kampus perjuangan terancam sering melakukan aktivitas ini. Salahkah mereka?
Kampus ITS, ITS Online - Malam mulai membentangkan jubah hitamnya di seluruh lapisan langit. Beberapa orang di perkotaan mungkin sudah bersiap untuk beristirahat karena padatnya aktivitas selama satu hari ini.

Namun, di kampus ITS, masih banyak ditemukan mahasiswa yang masih berseliweran. Bahkan hingga lewat tengah malam sekalipun. Beberapa lokasi yang menjadi area favorit mahasiswa adalah dekat Kantin Pusat ITS, selasar perpustakaan, dan sekretariat organisasi. Tidak hanya kampus. Arek-arek ITS juga menjadikan beberapa warung untuk begadang. Atau paling tidak di kos masing-masing.

Aktivitas begadang mereka pun beragam. Ada yang mengerjakan tugas, belajar bersama, diskusi, menonton timnas Indonesia dan drama serial, atau berselancar di jejaring sosial. Namun demikian, rata-rata memiliki alasan untuk mengerjakan tugas.

Memang, mahasiswa ITS dikenal memiliki banyak tugas dan kesibukan. Ada yang berasalan, di siang hari mereka kuliah dan berorganisasi, malam mengerjakan tugas. Sehingga tidak ada pilihan lain bagi mahasiswa ITS selain begadang. Ada yang mengatakan, karena dosen yang tidak kenal ampun dalam memberikan tugas dengan deadline yang cukup singkat. Parahnya, tugas tersebut banyak. Bahkan konon, ada dosen yang memberikan deadline tugas pada tengah malam dan dikumpulkan di rumah dosen. Berbagai alasan dikemukakan mahasiswa ITS yang mampu membuat orang lain bisa memberikan pemakluman mengapa mereka harus sering begadang.

Jika memang alasan di atas memang benar-benar terjadi, tidak terlalu masalah. Karena begadang bukan karena faktor kelalaian mahasiswa. Namun sangat disayangkan, ketika ada beberapa mahasiswa yang mengaku begadang untuk mengerjakan tugas diselingi senyum dan tawa tertahan lantaran membaca komentar temannya di jejaring sosial. Mahasiswa ini menganggapi komentar tersebut, lalu terlalu asyik dengan jejaringnya, dan lupa bahwa tugasnya yang besok akan dikumpulkan belum selesai. Istilahnya bukan lagi mengerjakan tugas disambi facebokan, tapi facebookan disambi mengerjakan tugas. Sayangnya, hal ini seakan menjadi candu. Sebagian mahasiswa mengatakan, ''Nggak papa, mengerjakan tugas juga butuh hiburan.''

Kebiasaan begadang ini telah diteliti oleh ilmuan dari kalangan medis. Disebutkan dalam studi terbaru yang dilakukan Maiken Nedergaard MD DMSc, peneliti Pusat Medis University of Rochester Medical Center, fungsi tidur pulas malam hari adalah membuang racun serta sisa-sisa aktifitas syaraf yang menumpuk di otak selama beraktifitas seharian. Alzheimer dan gangguan syaraf menjadi contoh penyakit akibat tumpukan tersebut.

Penelitian tersebut terbukti. Bahaya dari kebiasaan buruk mahasiswa ITS ini telah terjadi pada salah satu alumi ITS yang pernah tengah menderita kelainan syaraf. Dirinya tak bisa menerima beban pikiran berat. Jika beberapa hal mengganggu pikirannya, tubuhnya akan kejang dalam beberapa waktu. Setelah diteliti, dokter menyatakan penyakit tersebut berasal dari kebiasaan buruknya selama berkuliah, yakni bergadang dan beban pikiran. Rupanya tak hanya penyakit yang bisa mengancam mahasiswa ITS. Beberapa mahasiswa ITS pernah dinyatakan gagal dalam tes kesehatan dari instansi-instansi yang menarik minat untuk berkarir.

Tak Lengkap Tanpa Doping
Kebiasaan bergadang mahasiswa ITS tak luput dari peran doping. Doping merupakan upaya atau kegiatan yang bertujuan menambah performa. Doping diyakini ampuh membuat mata tetap terjaga. Entah dengan cara meminum kopi, meminum minuman berenergi, hingga mengonsumsi suplemen atau obat-obatan agar tidak tidur.

Di lingkungan kampus ITS sangat banyak lokasi yang menyediakan minuman berenergi dengan harga yang terjangkau. Hasil survei membuktikan penggunaan doping dengan minuman berenergi dapat menimbulkan berbagai penyakit mematikan. Kanker, liver, gagal ginjal, menjadi akibat penggunaan minuman berenergi secara rutin.

Tak hanya minuman berenergi yang menjadi doping mahasiswa ITS untuk begadang. Kopi juga menjadi pilihan. Konsumsi kopi pada berbagai lapisan mahasiswa ini rupanya membawa kecanduan bagi penikmatnya. Beberapa mengaku tubuhnya akan merasa tidak nyaman, bahkan migrain atau sakit kepala berat ketika dirinya tidak mengonsumsi kopi dalam sehari. Alhasil, pecandu doping semakin bertambah.

Bentuk Tanggung Jawab ITS
ITS telah berupaya mengatasi kebiasaan buruk mahasiswanya yang menjalani ritual "tak tidur". Olahraga dan penyegaran pikiran menjadi salah satu cara yang dirasa ITS ampuh untuk menanggulanginya. ITS menetapkan kebijakan, setiap Jumat pagi harus bebas kuliah. Ide yang cukup cemerlang.

Namun faktanya, banyak ditemui dosen yang melempar jam kuliah pengganti pada Jumat pagi. Tak hanya kuliah pengganti, berbagai aktifitas seperti asistensi, kuliah tamu, ujian, dan presentasi menjadi agenda jumat pagi. Kalaupun tidak ada kuliah, sangat jarang ditemui mahasiswa yang melakukan olahraga pada waktu tersebut. Bahkan,  masih banyak mahasiswa yang sebenarnya tidak mengetahui program ''penyembuh'' tersebut.

Rencana jumat menjadi obat bagi rutinitas buruk mahasiswanya, sepertinya masih belum mempunyai konsep yang jelas. Tak ada publikasi yang jelas, juga tak ada aksi pasti dari para birokrat untuk mewujudkan Jumat sehat.

Dilema tersebut berusaha dijawab oleh salah satu jurusan di FMIPA, Biologi. Mereka menetapkan mata kuliah Olahraga sebagai mata kuliah pilihan. Meskipun hanya satu SKS, mata kuliah Olahraga yang kini ada di Bologi mulai menjadi favorit. Jenis olahraga yang dipilih adalah olahraga renang yang notabene berkaitan dengan mata kuliah lain di jurusan yang identik dengan warna kuning ini.

Saran
Ada dua alternatif yang dapat dilakukan untuk menurangi atau bahkan menghilangkan adanya budaya begadang yang tidak sehat seperti ini. Pertama, untuk para dosen bisa memberikan alokasi waktu yang cukup kepda mahasiswa untuk pengerjaan tugas. Minimal jika dosen dapat mengerjakan 1 jam, mahasiswa dapat mengerjakannya dalam waktu 3 jam.

Kedua, berasal dari mahasiswa sendiri. Tidak menunda tugas. Kebanyakan mahasiswa ITS mengentengkan tugas-tugas yang diberikan. Akibatnya menggunakan Sistem Kebut Semalam (SKS). Dengan pengetahuan yang tidak pasti mengenai alokasi waktu pengerjaan, kebanyakan mahasiswa kelabakan dalam mengerjakan dan memilih tidak tidur demi rampungnya sebuah tugas. Bahkan, tugas yang dikerjakan sampai tak tidur pun belum tentu rampung.

Selanjutnya, mahasiswa ITS sebaiknya menghapus sistem "kepepet" sebagai suatu kelaziman. Mereka percaya kekuatan  "kepepet" melebihi segalanya dan dapat dibuat acuan dalam mengerjakan tugas selanjutnya

Tak kalah penting, alokasi waktu untuk tidur. Tak mudah memang mengalokasikan waktu tidur ketika kebiasaan bergadang atau tak tidur telah menjadi kebiasaan. Akan tetapi, membiasakan diri membuat jadwal kegiatan dapat membantu mahasiswa agar dapat tidur tanpa mengorbankan tugas.

Sederhana saja sebenarnya. Seperti pulang kuliah langsung mengerjakan tugas, kuliah lagi, mengerjakan tugas lagi hingga akhirnya tidur. Jika telah terbiasa akan rutinitas untuk mengalokasikan waktu tidur, pengerjaan tugas akan terasa lebih mudah.

Terakhir, efektifitas waktu. Bagi sebagaian mahasiswa, mengerjakan tugas dengan serius dirasa tidak mengasyikkan. Mereka berpendapat, mengerjakan tugas perlu diselingin dengan berbincang-bincang. Tidak salah memang. Tapi kalau mengobrol justru menjadi agenda utama? Sekiranya tugas bisa selesai dalam waktu dua jam, bisa sampai empat jam. Fantastis memang, apalagi jika diselingi dengan membuka media jejaring sosial.

 

Tim Redaksi ITS Online
Kirim komentar Anda:
Jumlah komentar: 0 (Lihat komentar)

Nama :
Email :
Tanggapan :
Masukkan kode di atas (Not Case Sensitive)   :