webmail  
fmipa fti ftsp ftk ftif pasca sarjana pens ppns










It is not how much money you make that ultimately makes you happy. It is whether or not your work fulfills you (anonymous)
Mendiknas dan Menakertrans Hadiri Seminar Nasional K3 di PPNS
20 Februari 2010 21:55:10
Seminar Nasional Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang digelar oleh Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS), Sabtu (20/2) dihadiri oleh Mendiknas M Nuh dan Menakertrans RI Muhaimin Iskandar. Berdua, para pembantu presiden itu didapuk menjadi pembicara dalam acara yang turut dihadiri oleh puluhan Direktur Politeknik seluruh Indonesia dan pihak industri.

Kampus PPNS, ITS Online - Mengambil tema Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia Bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Melalui Institusi Pendidikan Tinggi untuk Mewujudkan Indonesia Berbudaya K3, Seminar Nasional Bulan K3 yang dihelat di gedung baru PPNS ini terasa begitu istimewa.

Untuk pertama kalinya di luar rapat kabinet, Mendiknas dan Menakertrans duduk bersama dalam satu forum. "Ini merupakan kali pertama lho, saya beserta Bapak Mendiknas hadir bersama dalam satu pertemuan di luar rapat kabinet," ungkap Drs Muhaimin Iskandar MSi dalam sambutannya diiringi tepuk tangan seluruh peserta.

Berperan sebagai moderator seminar yaitu Daniel M Rosyid PhD dalam paparannya menegaskan pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja dalam dunia industri. "Seperti yang kita ketahui, K3 sekarang ini mutlak diperlukan untuk menciptakan dunia industri di Indonesia yang kondusif. Sehingga menarik semakin banyak investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia," kata Daniel.

Keynote speech yang pertama disampaikan oleh Menteri Pendidikan Prof Dr Ir Mohammad Nuh DEA. Menurut pria yang juga mantan Direktur PENS dan Rektor ITS ini dalam menjawab persoalan bangsa mengenai berbagai hal di dunia pendidikan tinggi perlu dibiasakan University Culture. Budaya yang dimaksud adalah budaya apresiatif-konstruktif, yaitu menghargai setiap prestasi yang diperoleh agar memacu orang lain untuk juga turut mencetak prestasi. Dan budaya intelectual curiousity, yang akan memacu seseorang untuk kreatif.

"Sudah saatnya kita menghapuskan pendekatan pembelajaran dogmatis, yang pokoknya-pokoknya menjadi pendekatan why yaitu kenapa dan mengapa. Dan keduanya harus berada dalam satu frame kesantunan,"tutur alumnus Universite Science et Technique du Languedoc (USTL) Montpellier, Perancis ini. Niscaya hal itu akan membuat pendidikan Indonesia semakin maju, tambah Nuh.

Pembicara kedua yaitu Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar dengan topik Tantangan Global SDM di Bidang K3 dan Peran Pendidikan Tinggi dalam Menghadapinya. "Dunia pendidikan sangat erat kaitannya dengan ketenagakerjaan. Karena dunia pendidikan lah yang mencetak orang-orang terampil yang akan dipakai dalam dunia kerja," ujar pria asal Jombang ini.

Gus Imin dalam pidatonya juga menambahkan tentang pentingnya budaya K3 dalam dunia industri di Indonesia untuk mengurangi resiko terjadinya kecelakaan kerja. Sesuai dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja No 04 Th 1987 yang mewajibkan pengusaha atau pengurus tempat kerja yang mempekerjakan seratus orang pekerja atau lebih atau menggunakan bahan, proses dan instalasi yang mempunyai resiko tinggi terjadinya peledakan, kebakaran, keracunan dan penyinaran radioaktif membentuk Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3).

Acara yang berlangsung di ruang pertemuan gedung baru direktorat PPNS ini turut dihadiri rektor ITS Priyo Suprobo, Rektor perguruan tinggi di Surabaya, Direktur Politeknik seluruh Indonesia dan para profesional di dunia Industri yang tergabung dalam Dewan Penasihat Industri. Seminar ditutup dengan penyerahan SK P2K3 oleh Kepala Disnaker surabaya kepada direktur PPNS, Ir Muhammad Mahfud MMT. (ian/fn)
Kirim komentar Anda:
Jumlah komentar: 0 (Lihat komentar)

Nama :
Email :
Tanggapan :
Masukkan kode di atas (Not Case Sensitive)   :