webmail  
fmipa fti ftsp ftk ftif pasca sarjana pens ppns










It is not how much money you make that ultimately makes you happy. It is whether or not your work fulfills you (anonymous)
Memelihara Burung Ajarkan Kesabaran
30 April 2010 16:07:27
Himpunan Mahasiswa Biologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (Himabits) mengadakan workshop Pengenalan Awal Perdagangan Burung sebagai upaya untuk melestarikan populasi burung di Surabaya. Bekerjasama dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, workshop ini menghadirkan praktisi penangkaran dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur, Kamis (29/4). 
Surabaya, ITS Online - Populasi burung liar yang berkembang di Surabaya semakin terancam dengan adanya pemburu burung. Oleh karena itu, dalam pidato pembukaan acara tersebut Wali Kota Surabaya, Bambang DH  berharap Surabaya dapat menjadi tempat breeding (tempat pembiakan) terbuka bagi burung. Upaya ini dilakukan dengan memanfaatkan taman-taman kota dan ruang terbuka hijau dalam kota.

Workshop yang digagas bersama Pemkot ini, menghadirkan Agus Kasmono praktisi penangkaran burung Cucak Rowo, Susilowati praktisi penangkaran burung Jalak Bali, petty dari BKSDA Jatim, dan M Muryono dosen Biologi ITS. Bertempat di Gedung Sawungguling Lantai 6 Pemkot, workshop ini mampu mengundang antusiasme masyarakat surabaya pecinta burung yang ikut meramaikan acara.

Keberadaan populasi burung liar yang terjaga dengan baik, bisa dimanfaatkan untuk ekowisata. Ekowisata ini bisa menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan perekonomian masyarakat sekitarnya. "Perlu aturan yang jelas dari pemerintah, tapi juga perlu adanya kesadaran dari masyarakat untuk tidak memburu burung, " jelas M Muryono.

Sementara untuk melindungi beberapa jenis burung liar dari kepunahan, masyarakat bisa melakukan penangkaran. Selain untuk melindungi hewan dari kepunahan, program penangkaran juga bisa menambah pendapatan masyarakat. "Kita terus berbenah untuk perbaikan pelayanan perijinan, " jelas Petty dari BKSDA.

Para peserta yang rata-rata pecinta burung, menjadi antusias ketika Susilowati menyampaikan beberapa informasi mengenai proses penangkaran Jalak Bali. Menurutnya dalam memelihara burung mengajarkan kesabaran. "Kita harus menjiwai dan itu akan mengajarkan kita untuk sabar dan telaten," jelasnya. Sebagaimana manusia, menurutnya burung juga mempunyai kebiasaan-kebiasaan unik.

Susilowati berharap kedepannya makin banyak masyarakat yang mulai menjadi penangkar burung. Selain bisa melestarikan burung juga bisa sebagai penambah pendapatan. Untuk itu Ia tak segan berbagi ilmu dengan siapapun yang ingin memulai memlihara burung. "Saya juga sudah menulis buku, harapannya setelah saya meninggal ilmu saya tidak punah. Tapi saya berharap ilmu ini diteliti oleh para akademisi seperti dari ITS ini," ujarnya. (ims/yud)
Kirim komentar Anda:
Jumlah komentar: 2 (Lihat komentar)

Nama :
Email :
Tanggapan :
Masukkan kode di atas (Not Case Sensitive)   :