webmail  
fmipa fti ftsp ftk ftif pasca sarjana pens ppns










It is not how much money you make that ultimately makes you happy. It is whether or not your work fulfills you (anonymous)
Rizky, Perjuangan Panjang Sang Jawara Silat
11 Mei 2011 09:18:00
Tubuhnya sedang. Sama sekali tak menyiratkan ia jago urusan tendang-menendang. Wajahnya pun tak tampak garang. Padahal, ia bisa terlihat berang bila di area pertandingan. Begitulah Muhammad Rizky Aulia. Mahasiswa asal Aceh Utara ini memang sudah malang-melintang di dunia bela diri. Bahkan, belum lama ini juara tiga pencak silat di Pekan Olahraga Mahasiswa Daerah (Pomda) baru saja digenggamnya.





Kampus ITS, ITS Online - Rizky, sapaan akrabnya, tak pernah menyangka akan memilih jurusan Teknik Sipil sebagai program studinya. Di benaknya kala itu, jurusan Tarbiyah Bahasa Arab di Banda Aceh. Atau sejauh-jauhnya ia merantau ke luar Sumatra, jurusan Arsitektur yang akan dipilihnya.

''Maklum, saya masuk lewat jalur Depag (Departemen Agama, red),''tuturnya sembari tersenyum. Ia menyebutkan, tak ada nama jurusan Arsitektur untuk penerimaan lewat jalur ini. Akhirnya, ia memutuskan memilih ITS dan jurusan Teknik Sipil sebagai loncatan masa depannya.

Sama halnya memilih jurusan, pria kelahiran 28 Oktober 1991 ini pun tak pernah berpikir akan benar-benar menyukai dunia bela diri. Berawal dari keisengannya semasa masuk pesantren modern Misbahul ulum atau setara Sekolah Menengah Pertama (SMP).  ''Saya cuma ikut teman yang mendaftar,''ungkap mahasiswa angkatan 2010 ini.

Meski sekedar iseng, ia tetap mengikuti latihan rutin yang telah dijadwalkan, yakni Selasa sore dan Jumat pagi. Alhasil, ia merasakan kram diseluruh tubuh selama dua hingga tiga hari. Bagi Rizky, hal tersebut memang biasa dialami para pemula. Ia juga tak merasa kapok mengikuti latihan kerasnya itu.

Diantara banyaknya jenis ekstrakurikuler olahraga, ia memang hanya memilih pencak silat. Alasannya simpel. Ketika pencak silat, ia pasti mendapat jatah menendang samsak. Berbeda saat bermain sepak bola, tidak semua orang dapat bola dan berkesempatan menendang. Namun, bukan berarti ia tak bisa melakoni olahraga lainnya. ''Saya juga bisa olahraga lain, tapi tidak begitu tertarik,'' ujarnya lagi.

Mengenai pencak silat yang diikutinya, Rizky menyebutkan, ia tergabung dalam perguruan Tapak Suci. Diakuinya, ada banyak jenis perguruan pencak silat. Mulai dari Merpati Putih, Perisai Diri, Persaudaraan Setia Hati Teratai (PSHT), hingga Tapak Suci. Sebenarnya, semua perguruan memiliki cara latihan yang sama. Hanya saja tendangannya yang berbeda.

Saat Rizky duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), ia mulai aktif terjun dalam pertandingan. Tak kurang lima pertandingan telah dilakoninya. Pertandingan pertamanya adalah ajang Persatuan Silat Misbahul Ulum Cup (Persimucup) antar perguruan Tapak Suci se-Aceh. Langkah pertama ini dikemasnya dengan manis. Ia mampu meraih juara kedua.

Pada tahun 2008, ia lebih memperluas ranah pertadingannya dengan mengikuti Persatuan Silat Darul Arafah Cup (Persidacup). Ia pun kembali merah posisi kedua. ''Saya ikut kelas A kategori pelajar untuk berat badan 39 sampai 42 kilogram,''tutunya.

Ia menambahkan, pencak silat memang dibedakan dari berat badannya. Jika berat badan antara 45 hingga 50 kilogram maka tergolong kelas A. Bila antara 50 hingga 55 kilogram, maka termasuk kelas B. Begitu seterusnya hingga kelas F.

Selanjutnya, pertandingan ketiga yang ia ikuti adalah Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda). Ia juga mengikuti Persimucup tahun 2009 sebagai pertandingan kelimanya. Dan lagi-lagi, ia menjadi juara kedua. Entah kebetulan atau tidak, ia sendiri merasa heran.

Satu hal yang membekas di pikirannya ketika pertandingan kelima adalah usaha kerasnya meraih juara kedua. Sebab, lengannya sempat terlepas di semifinal. ''Meski begitu, saya tetap bertanding dan berhasil menang,'' terangnya.

Berbeda dengan pertandingan keempat, ia harus rela tidak meraih posisi juara. ''Kalah gara-gara ganti kelas,'' kenangnya. Benar saja, masa pertandingan berlangsung berbarengan dengan masa liburan sekolah. Diakuinya, Ia jarang latihan.Sehingga berat badan tidak bisa dipaskan. Alhasil, Rizky yang biasanya bertanding di kelas A, harus mau dipindah ke kelas B.

Pertandingan itu benar-benar menjadi pelajaran berharga baginya. Setiap seminggu akan pertandingan, ia harus menurunkan berat badan sekitar satu kilogram. Baginya, hal tersebut tak sulit. Cukup mengurangi porsi makan dan jogging secara kontinu.

Masuk di kampus ITS, ia semakin menekuni dunia pencak silat ini. Awalnya, ia ingin masuk perguruan Tapak Suci pula. Namun, perguruan tersebut telah bubar. Sedang, perguruan lain di ITS tidak memiliki jadwal latihan rutin.''Saya putuskan ikut PSHT saja. Latihannya rutin dan tidak bentrok dengan jadwal kuliah,'' jelasnya.

Ia mengakui, pelatihan di ITS dan pesantrennya benar-benar berbeda. Dulu, ia benar-benar merasakan atmosfer pelatihan keras sebelum bertanding. Maklum saja, pesantrennya memang terdiri dari atlet-atlet yang biasa bertanding di kancah nasional. Disini, pelatihannya tidak begitu fokus terhadap event-event pertandingan.

Selama mengikuti PSHT, pria murah senyum ini telah mengikuti dua pertandingan. Pertandingan pertama diikutinya lewat Kejuaraan Nasional (Kejurnas) di Jogja. Sayangnya, ia bersama dua perwakilan lainnya harus ikhlas menerima kekalahan.

''Alhamdulillah, di Pomda bisa dapat juara tiga,'' ungkap Rizky lagi. Sejujurnya, ia tak punya harapan muluk untuk pertandingan kedepannya. Torehan juara bukan targetnya. ''Yang penting maksimalkan diri untuk setiap event,'' pungkasnya. (esy/yud)
Kirim komentar Anda:
Jumlah komentar: 10 (Lihat komentar)

Nama :
Email :
Tanggapan :
Masukkan kode di atas (Not Case Sensitive)   :